Aku sudah lama dan jauh merantau. Banyak impian telah aku capai, pelbagai liku hidup telah aku lewati dan bermacam pengalaman telah aku rasai. Suara kepulangan selalu menggamit sanubariku. Seringkali aku cuba menepisnya. Menutup telinga dari mendengar panggilannya. Namun, semakin aku cuba melenyapkannya, semakin perkasa ia datang menggoncang tubuhku yang kerdil ini.
Dulu, ketika aku mula melangkah kaki, pergi menjauh dari desa permai dan kota sepi kelahiranku, hati ini berbisik sendiri, "Nantikanlah kepulanganku wahai desa dan kotaku. Akan kubawa segenggam permata dari puncak gunung harapan. Akan aku semadikannya di dadamu yang lebar dan tegar. Agar anak-anak watanmu bisa mengukir secebis senyuman. Puas dan bangga memadam penghinaan yang telah sering dan sekian lama dilemparkan di kerling wajahmu."
Aku akan pulang. Meskipun perjalanan masih berliku dan kerikil jalan masih tajam menusuk telapak kaki dan terik mentari masih membahang, namun langkah kepulangan ini tidak harus ditunda lagi. Aku sedar jika kerinduan ini sebenarnya bukan milikku semata. Aku mengerti jika di sana sudah lama menantikan kepulanganku dan Dia telah menentukan jalan hidupku. Aku akan pulang.






1 Nakapangkis:
wahh...
selamat pulang ison...
menulis tokou kembagu...
:-)
Post a Comment